Museum Fatahilah Jakarta Dulu Kantor Gubernur Ali Sadikin

MITRAPOL.com – Kota Tua Jakarta terletak di Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari Kotamadya Jakarta Barat, ketika ini, tempat Kota Tua berada di dua wilayah Kotamadya, yaitu Jakarta Utara dan Jakarta Barat.
Kawasan Kota Tua Jakarta
Hasil penelusuran di tempat Kota Tua Jakarta, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, pukul 10 : 00 Wib, Rabu (6/12/2017). Kota Tua Jakarta, menyimpan banyak dongeng di balik megahnya bangunan (tua) cagar budaya peninggalan masa kemudian dari zaman kolonial Belanda, Jakarta.
Sebelum menjadi Museum Fatahilah, gedung ini yaitu kantor Gubernur Ali Sadikin pada masa dirinya menjabat. Gedung ini diresmikan menjadi Museum Fatahilah dan eksklusif diresmikan oleh Gubernur Ali Sadikin, di Museum Fatahilah Jakarta 30 Maret 1974.
Kota Tua Jakarta, wilayahnya berbatasan sebelah utara dengan Pasar Ikan, Pelabuhan Sunda Kalapa dan Laut Jawa, sebelah selatan berbatasan dengan jalan Jembatan Batu dan Jalan Asemka, sebelah Barat berbatasan dengan Kali Krukut dan sebelah Timur berbatasan dengan Kali Ciliwung.
Kota Tua Jakarta di masa kemudian merupakan kota rebutan yang menjadi simbol kejayaan bagi siapa saja yang bisa menguasainya. Tak heran bila mulai dari Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda-Pajajaran, Kesultanan Banten-Jayakarta, Verenigde Oost-indische Compagnie (VOC), Pemerintah Jepang, sampai kini Republik Indonesia melalui Pemerintah DKI Jakarta, terus berupaya mempertahankannya menjadi kota nomor satu di negara ini.

Pada 1526, Fatahillah, dikirim oleh Kesultanan Demak, menyerang pelabuhan Sunda Kelapa di kerajaan Hindu Pajajaran, kemudian dinamai Jayakarta. Kota ini hanya seluas 15 hektare dan mempunyai tata kota pelabuhan tradisional Jawa, Tahun 1619. VOC menghancurkan Jayakarta di bawah komando Jan Pieterszoon Coen, satu tahun kemudian, VOC membangun kota gres berjulukan Batavia untuk menghormati Batavieren, leluhur bangsa Belanda.
Kota ini terpusat di sekitar tepi timur Sungai Ciliwung, ketika ini Lapangan Fatahillah.
Penduduk Batavia disebut “Batavianen”, kemudian dikenal sebagai suku Betawi, terdiri dari etnis kreol yang merupakan keturunan dari aneka macam etnis yang menghuni Batavia, pada 1635, kota ini meluas sampai tepi barat Sungai Ciliwung, di reruntuhan bekas Jayakarta. Kota ini dirancang dengan gaya Belanda Eropa lengkap dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding kota, dan kanal. Kota ini diatur dalam beberapa blok yang dipisahkan oleh kanal, Kota Batavia akhir dibangun tahun 1650.
Batavia kemudian menjadi kantor sentra VOC di Hindia Timur, kanal-kanal diisi sebab munculnya wabah tropis di dalam dinding kota sebab sanitasi buruk.
Kota ini mulai meluas ke selatan sehabis epidemi tahun 1835 dan 1870 mendorong banyak orang keluar dari kota sempit itu menuju wilayah Weltevreden (sekarang daerah di sekitar Lapangan Merdeka), Batavia kemudian menjadi sentra administratif Hindia Timur Belanda Tahun 1942, selama pendudukan Jepang, Batavia berganti nama menjadi Jakarta dan masih berperan sebagai ibu kota Indonesia sampai sekarang.
Pada 1972, Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, mengeluarkan dekrit yang resmi menimbulkan Kota Tua sebagai situs warisan. Keputusan gubernur ini ditujukan untuk melindungi sejarah arsitektur kota atau setidaknya bangunan yang masih tersisa di sana.
Museum Bank Indonesia terletak tidak jauh dari Museum Fatahilah Jakarta, didepan atau dihalaman terlihat Meriam si Jagur, diatas goresan pena “Ex Me Ipsa Renata Sum” yang berarti “Aku diciptakan dari diriku sendiri,”.
Reporter : sugeng/muklis
Editor : andrey


Sumber http://www.mitrapol.com/